Ada kesalahan di dalam gadget ini

Minggu, 21 Agustus 2011

Metode 33 Pelajaran 11

PELAJARAN 11
KHABAR DARI MUBTADA` YANG DIBUANG, BADAL DAN MU’TALL AKHIR
KOSAKATA:
إزالة، نجاسة، إيصال، بشرة، هي، سيدنا، عصا، يمنى، يسرى، مدعوّ، وقت، طلب، تعذُّر، القاضي، قبل، إمرار، جسد، تقديم
KAIDAH:
17. Sering kita jumpai dalam teks-teks berbahasa Arab klasik yang mengungkapkan tentang pembagian yang biasanya dalam bahasa Indonesia diberi nomor urut, akan tetapi di dalam bahasa Arab sering tidak memakai nomor urut. Misalnya:
وفرائِضُ الْغُسْلِ ثلاثةُ أشْياء: النِّيّةُ وإِزالةُ النّجاسةِ وإِيْصالُ الْماءِ إِلى جمِيْعِ الشّعْرِ والْبشرةِ
Terjemah harfiahnya:
(Adapun fardhu-fardhunya mandi itu ada tiga perkara: (yaitu) niat, menghilagkan najis, dan menyampaikan air ke semua rambut dan kulit)
Terjemah alternatif:
(Rukun-rukun mandi itu ada tiga, yaitu: (1) niat, (2) menghilangkan najis, dan (3) meratakan air ke seluruh rambut dan kulit).
Pada contoh di atas, status kata النِّيّةُ adalah khabar dari mubtada` yang dibuang, jika ditampakkan adalah هِي النِّيّةُ dan seterusnya. Dengan demikian, kata النِّيّةُ dibaca rafa’ sebagai khabar.
18. Di dalam bahasa Arab sering muncul penyebutan sesuatu yang dilanjutkan dengan penyebutan kata lain yang sebenarnya makna kata itu adalah kata yang sudah disebutkan sebelumnya. Dalam hal seperti ini para ahli tata bahasa Arab menyebutnya dengan istilah badal.
Contoh: سيِّدُنا مُحمّدٌ (penghulu kita Muhammad).
Makna dan isi dari kata سيِّدُنا adalah kata مُحمّدٌ.
Susunan kata yang pertama (سيِّدُنا) disebut mubdal minhu dan kata kedua (مُحمّدٌ) disebut badal. Jadi pada contoh di atas kata مُحمّدٌ adalah badal, dan سيِّدُنا adalah mubdal minhu.
I’rabnya badal mengikuti i’rabnya mubdal minhu, artinya, jika mubdal minhu dibaca rafa’ maka badal juga dibaca rafa’, seperti contoh سيِّدُنا مُحمّدٌ di atas, karena سيِّدُنا dibaca rafa’ maka kata مُحمّدٌ juga dibaca rafa’, begitu pula jika mubdal minhu dibaca nashab atau jarr, maka badal harus mengikuti i’rabnya mubdal minhu. Bandingkan dengan i’rabnya man’ut + na’at.
19. Apabila ditemukan kata, baik isim maupun fi’il, dalam bahasa Arab yang akhirnya huruf waw, alif atau ya’ asli (bukan tambahan) dan sebelum huruf terakhir berharakat, maka waw, alif dan ya’ itu disukun dan i’rabnya dikira-kirakan, kecuali waw dan ya’ yang difathah atau dibaca nashab. Kata yang seperti ini dinamakan mu’tall akhir (huruf terakhir berupa huruf ‘illah). Huruf ‘illah ada tiga: alif, waw, dan ya`.
Catatan:
- Alif ada yang ditulis dengan berdiri tegak (ا) dan ada yang ditulis seperti ya’. Yang ditulis seperti ya’ tidak ada titik di bawahnya dan disebut dengan alif layyinah (ى).
Contoh: العصا، اليُمْنى
- Ya’ dan waw di akhir kata yang ditasydid diharakati sebagaimana huruf-huruf lain.
Contoh: الشافِعِيُّ، الْمدْعُوُّ


LATIHAN
1. Bacalah teks berikut ini dengan benar (terutama perhatikan cara membaca akhir kata dari setiap kata yang ada) kemudian terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia!
وفروض الوضوء ستة أشياء: النية عند غسل الوجه، وغسل الوجه، وغسل اليدين إلى المرفقين، ومسح بعض الرأس، وغسل الرجلين إلى الكعبين، والترتيب// وشرائط التيمم خمسة أشياء: وجود العذر بسفر أو مرض، ودخول وقت الصلاة، وطلب الماء، وتعذر استعمال الماء بعد الطلب، والتراب الطاهر// وصلى اللّه على سيدنا محمد// القاضي أبو شجاع أحمد بن الحسين// الفقه على مذهب الإمام الشافعيّ// وسنن الغسل خمسة أشياء: التسمية، والوضوء قبل الغسل، وإمرار اليد على الجسد، والموالاة، وتقديم اليمنى على اليسرى//
2. Tunjukkan kata yang menjadi khabar dari mubtada` yang dibuang pada teks di atas!
3. Tunjukkan kata yang menjadi badal pada teks di atas!
4. Tunjukkan isim mu’tall akhir dari teks di atas lalu sebutkan status dan tanda i’rabnya!
5. Sebutkan status masing-masing kata dari teks di atas dan sebutkan tanda i’rabnya!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar